Polisi gerebek mesin judi ketangkasan

Satreskrim Polrestabes Bandung menggerebek dua tempat judi agen situs online ketangkasan yang berada di Pisset Mall, Jalan Pelajar Pejuang, dan Lucky Square, Jalan Jakarta, Bandung, pada Jumat (17/2/2012) malam.

Dari kedua tempat tersebut polisi berhasil menyita 194 unit mesin judi ketangkasan, uang koin sebanyak 1747 Buah dan 40 lembar kupon. Tak cuma itu kepolisian pun mengamankan 53 orang pemain dan pegawai.

Dari informasi yang dihimpun merdeka.com, alat judi milik Dedi Zein tersebut diduga sudah beroperasi sejak lama. Karenanya kepolisian langsung melangsungkan penggerebekan secara mendadak yang dipimpin Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Wijanarko dan Kanit Jatanras AKP Supriyono.

Di tempat tersebut, pihaknya langsung melakukan penyegelan dan penyitaan mesin. Selain itu kepolisian pun mengamankan HE sebagai penanggung jawab Piset Mall. Sementara penggerebekan ‘Starzone Alcatraz’ yang berada di Lucky Square, polisi berhasil mengamankan 145 mesin judi ketangkasan, 24 pemain, dan 10 karyawan.

Penggerebekan di tempat tersebut dilakukan oleh Tim Gabungan dari Polda Jabar dan Polrestabes Bandung. Bahkan, Dirreskrimum Polda Jabar Kombes Pol Slamet Riyanto dan Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Abdul Rakhman Baso, turut melakukan penggerebekan.

Seperti diungkapkan Dirreskrimum Polda Jabar Kombes Pol Slamet Riyanto, di Mapolrestabes Bandung, Jumat (17/2/2012) malam. “Ya, benar kami melakukan penggerebekan terhadap dua tempat berbeda,” terangnya

Hal itu diduga tempat tersebut adanya permainan tempat judi. Untuk itu penyelidikan akan dilakukan pihak kepolisian dan lokasi tersebut telah dipansangi garis polisi.

3 PNS kepergok berjudi di kantor kelurahan

Gudang di lantai empat Kelurahan Pal Mariam, Matraman, JakartaTimur itu digeruduk polisi. Sontak tiga orang pegawai kelurahan yang sedang asyik bermain judi poker online itu pun kaget. Ketiganya kemudian diamankan Polsek Matraman.

Kapolsek Matraman, Djoko Santoso, mengatakan pihaknya menangkap AG, NN, JP, Kamis (23/2) sore. Polisi menyita satu paket kartu remi dan uang senilai Rp 23 ribu.

“Saat ini kita kasih mereka shock therapy aja agar mereka memikirkan kesalahan mereka. Soal dikenakan pasal kita masih belum bisa berikan, soalnya mereka melakukannya hanya sekedar iseng saja,” kata Djoko.

Seandainya pun akan dikenakan pidana, kata Djoko, ketiga tersangka itu kemungkinan akan dijerat dengan pasal 303 KUHP tentang perjudian. Ancaman hukuman untuk pasal ini adalah penjara di bawah lima tahun dan denda Rp 10 juta rupiah.

Menurut informasi yang dihimpun merdeka.com, AG merupakan sekertaris kelurahan, NN adalah pegawai dinas kebersihan dan JP adalah CPNS.

2 Film Horor yang Lagi Tayang di Bioskop Selain Pengabdi Setan

Euforia film horor sepertinya lagi menjangkit penonton film Indonesia. Ini dibuktikan dengan suksesnya tiga judul film horor yang mengisi deretan 5 besar box office Indonesia di tahun ini.

Selain Pengabdi Setan yang masih tayang, ada dua film horor baru yang bisa jadi pilihan. Satu film berasal dari Hollywood, satu film lagi produksi lokal tapi bercitarasa internasional.

Loe bisa nonton Happy Death Day yang disutradarai Christopher Landon. Film ini bercerita tentang seorang mahasiswa (Jessica Rothe) terus menerus mengulang hari kematiannya dengan cara yang berbeda-beda, untuk mengetahui siapa pembunuhnya yang sebenarnya.

Nggak disangka, film Happy Death Day yang diproduksi dengan bujet kecil, berhasil menjadi jawara di Amerika Utara. Film ini mengalahkan Blade Runner yang dibintangi Harrison Ford dan Ryan Reynolds.

2 Film Horor yang Lagi Tayang di Bioskop Selain Pengabdi Setan

Selain itu, ada film Devils Whisper yang dibintangi Luna Maya di bawah arahan sutradara Adam Ripp. Film ini dikerjakan bareng filmmaker Amerika Serikat.

Devils Whisper bercerita tentang Alejandro Duran atau yang biasa dipanggil Alex (15 tahun), berasal dari keluarga Amerika Latin yang religius. Dia memiliki cita-cita menjadi Pendeta Katolik. Semua rencananya berantakan, saat Alex menemukan sebuah kotak misterius yang diturunkan seara turun temurun dari kakek dan neneknya.

Dan saat dia membuka paksa kotak tersebut, tanpa disadari dia melepaskan roh jahat yang ingin merasuki dirinya. Alex harus menemukan cara untuk mengalahkan roh jahat ini, sebelum roh jahat ini menyakiti orang-orang yang dia cintai.

iPhone X Udah Mahal, yang Ini Lebih Mahal Lagi

iPhone X sudah mulai bisa dipesan dalam beberapa minggu lagi. Harganya pun diperkirakan menembus belasan juta. Ngerasa mahal? Bentar dulu. Yang ini lebih mahal lagi.

Produsen ponsel mahal Legend meluncurkan iPhone X buatan tangan. Banderol harganya luar biasa nih bro. Ada yang menembus Rp 60 juta!

Model pertama adalah Aurum iPhone X. Model ini dibanderol sekitar Rp 47 juta yang dilapisi dengan emas 24 karat. Logo Apple-nya pun terbuat dari mutiara hitam yang dihiasi emas 18 karat.

iPhone X Udah Mahal, yang Ini Lebih Mahal Lagi

Model kedua adalah Corium iPhone X yang dihargai Rp 51 jutaan. Yang ini juga dilapisi emas 24 karat. Tapi yang membuatnya berbeda adalah lapisan kulit buaya premium di body belakangnya. Kalau nggak srek dengam kulit buaya bisa diganti sesuai request lho!

iPhone X Udah Mahal, yang Ini Lebih Mahal Lagi

Yang paling mahal dari Legend adalah Momentum iPhone X. Yang ini harganya Rp 60 jutaan. Berbeda dari dua model yang lain, Momentum punya desain yang unik dari berlian yang ditata sedemikian rupa di bagian belakang.

iPhone X Udah Mahal, yang Ini Lebih Mahal Lagi

Semua iPhone X mewah ini dijual bersama dengan kotak eksklusif dan sertifikat keaslian. Termasuk EarPods berlapis emas 24 karat dan leather pouch. Selain itu, ketiga model ini juga limited edition. Hanya dijual 10 unit saja.

Polisi Bongkar Perjudian di Permainan Anak di Aceh, 13 Orang Dibekuk

Polisi membongkar perjudian agen situs online di tempat permainan anak di Funland, Peunayong, Banda Aceh. Belasan orang yang terdiri dari pekerja, pemain, hingga penyedia tempat ditangkap.

Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh AKP Muhammad Taufiq mengatakan praktik perjudian ini dibongkar setelah polisi melakukan penyelidikan selama sebulan. Saat itu, polisi mendapat informasi soal adanya fasilitas wahana permainan anak yang dijadikan ajang perjudian.

“Beberapa pengunjung yang datang ke Funland mereka menggunakan fasilitas wahana permainan yang di dalam permainan tersebut mengandung unsur judi. Salah satunya seperti wahana permainan Seafood Paradise atau dikenal dengan sebutan permainan tembak ikan gila,” kata Taufiq kepada wartawan, Jumat (10/11/2017).

Tersangka yang berhasil diciduk adalah lima orang dari pihak Funland, tujuh pemain, dan satu penyelenggara. Mereka diciduk pada Selasa (7/11) sekitar pukul 18.00 WIB.

Menurut Taufiq, untuk mengelabui petugas, dalam permainan tembak ikan gila ini para pemain diberi tiket berwarna hitam. Agar mesin permainan dapat beroperasi, pemain harus memasukkan tiket tersebut.

Para pemain pun harus membeli koin seharga Rp 100 ribu untuk mendapatkan 80 koin. Setelah itu, pemain memilih permainan sesuai keinginan. Khusus untuk tembak ikan gila, pemain harus mengumpulkan kredit poin minimal 600 poin. Jika berhasil, kredit poin ini dapat mengeluarkan 120 tiket hitam.

“Tiket hitam ini dapat diganti dengan voucer. Dan voucer ini bisa ditukar dengan uang,” jelas Taufiq.

Untuk mendapatkan uang, para pemain berlomba-lomba bermain agar memperoleh voucer. Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, diketahui arena permainan anak tersebut meraup Rp 15 juta per hari. Di lokasi, polisi menyita barang bukti berupa tujuh unit mesin judi, tiga kardus tiket hitam, ratusan voucer, dan uang sebesar Rp 4 juta.

“Para tersangka ini terancam hukuman cambuk karena akan dikenakan dengan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Qanun Jinayat,” ujar Taufiq.

Polisi Tangkap 4 Penjudi di Grogol

Masyarakat Kelurahan Wijaya Kusuma,GrogolPetamburan,Jakarta Barat, sering mengeluhkan adanya judi remi di Jalan Wijaya. Mereka pun melaporkan hal tersebut kepada Polsek TanjungDuren.

“Pada Minggu, (7/1/2018) sekitar pukul 16.10 WIB. Bripka Faurony Hidayat melakukan observasi kewilayahan di Wijaya Kusuma. Kemudian mendapat informasi dari warga bahwa ada permainan jenis judi pokerrepublik remi,” ucap Kapolsek Tanjung Duren Kompol Lambe Patabang Birana, dalam keterangannya, Selasa (8/1/2018).
Saat dilakukan penggerebekan, Empat orang diamankan dengan barang bukti uang dan kartu remi. Mereka adalah Tejo Rukmono (42), Raswad (45), dan Sutrisno (59).
“di TKP, kami lngsung mengamankan pelaku berikut barang bukti satu set kartu remi dan uang tunai sebesar Rp.500.000.00,” kata Lambe.
Saat di tangkap, mereka tidak melakukan perlawanan. “Selanjutnya dibawa ke Polsek Tanjung Duren untuk proses lebih lanjut,” kata Lambe.

Setoran Bulanan Lancar, Bisnis Pun Aman

Cindra Wijaya alias Acin, bandar judi agen situs online besar di Pekanbaru, membuka bisnis haramnya sejak 2006 silam. Acin mengaku bisa beroperasi sekian lama karena mendapat restu dari jajaran Polda Riau dan Poltabes Pekanbaru.

Judi di Riau sebenarnya sudah berlangsung lama sejak tahun 90-an. Namun berbagai perjudian seperti togel, bola ketangkasan, semuanya tiarap sejak Jenderal Pol Sutanto menduduki jabatan sebagai Kapolri. Di zaman Sutanto semua perjudian di Riau dibumihanguskan pada pertengahan tahun 2005 silam.

Namun awal tahun 2006, judi dengan bandar baru kembali muncul. Peredaran togel kembali marak. Bandar judi baru itu  bernama Acin. Apesnya Oktober 2008, ketika Brigjen Hadiatmoko menjabat sebagai Kapolda Riau ini, judi kembali disikat. Acin dan 22 stafnya digelandang ke dalam sel dan dijadikan tersangka.

Acin mengetahui usaha judi itu dilarang keras di negara Indonesia. Namun dia mengaku tetap berani membuka judi togel di Pekanbaru karena telah mendapat ‘restu’ dari oknum polisi.

Pengakuan itu tertuang dalam salinan BAP Acin yang diterima detikcom. BAP itu berisi keterangan Acin saat diperiksa sebagai saksi oleh Propam Polda Riau dalam kasus pelanggaran disiplin dan pelindungan judi sejumlah anggota Polri pada 27 Oktober 2008.

Acin menjelaskan, dirinya berkoordinasi dengan sejumlah pihak agar bisa menghubungi dan bertemu Kapoltabes Pekanbaru tahun 2006 yang saat itu dijabat Kombes SJ. Acin juga bertemu Wakapolda Riau, Kombes RI (saat ini telah pensiun).

“Pertemuan  itu untuk meminta izin dalam membuka permainan judi yang saya jalankan,” kata Acin.

Namun Acin tidak ingat kapan pertemuan dengan SJ dan RI berlangsung. Yang jelas pertemuan itu dilakukan secara terpisah di kediaman kedua perwira menengah tersebut. Dalam pertemuan itu kedua pamen ini memberikan izin untuk membuka usaha judi togel.

Sebagai ucapan terima kasih, Acin memberikan uang masing-masing Rp 20 juta kepada Kapoltabes Pekanbaru dan Wakapolda Riau. Dan setelah judi berjalan, Acin memberikan jatah bulanan kepada Kapoltabes Pekanbaru dan Wakapolda Riau serta jajarannya.

Acin juga mengaku memberikan jatah kepada oknum TNI, wartawan, ormas dan OKP. Pemberian tersebut baru berakhir setelah Acin diciduk pada Oktober 2008.

Kini Acin dijadikan tersangka dalam  kasus judi togel dan kepemilikan senjata api ilegal. Acin juga dituding melakukan kejahatan money loundring karena hasil usaha judinya dialihkan ke usaha perkebunan sawit, serta real estate. Kasus money loundring kini tengah didalami Polda Riau.

KPAI: Pengadilan Harus Dihentikan

Kasus dugaan judi yang dilakukan oleh 10 anak di bawah umur mulai bergulir di pengadilan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pengadilan dihentikan karena proses hukum awal melanggar UU Perlindungan Anak.

“Ini pengadilan sesat. Saya minta pengadilan terhadap anak di PN Tangerang itu harus dihentikan,” kata Ketua KPAI Hadi Supena, ditemui wartawan di Kantor Kompolnas, Jl. Tirtayasa, Jakarta, Kamis (16\/7\/2009).

Menurut Hadi, pelanggaran ketentuan terjadi sedari awal proses penyelidikan kasus yang terjadi pada akhir Mei silam oleh pihak kepolisian. Pasal 303 UU KUHP yang polisi kenakan, mensyaratkan tindak perjudian bertujuan untuk mata pencaharian.

“Sementara anak-anak itu lebih kepada permainan,” tegas Hadi.

Dia menilai Polres Bandara Soekarno Hatta telah melanggar beberapa aturan atas pengenaan pasal yang tidak tepat tersebut. Yakni pasal 16 UU Perlindungan Anak dan Peraturan Kapolri 8\/2009 pasal 25 yang menyebut bahwa penangkapan, penahanan dan pemidanaan anak-anak merupakan langkah terakhir terlebih bila perbuatan yang dilakukan tidak membahayakan banyak orang.

“Saya berkirim ke kapolri lewat Irwasum Mabes Polri, agar memeriksa jajaran Polres bandara apakah dalam melakukan proses hukum sudah memperhatikan perspektif anak,” sambungnya.

Surat permohonan untuk memastikan aparat hukum yang menangani kasus judi anak-anak memperhatian UU Perlindungan Anak juga KPAI kirim ke Kejaksaan Agung RI selaku pihak penuntut. Sedangkan khusus PN Tangerang, KPAI telah mendatangi langsung untuk menyampaikan masukan-masukannya.

“Di UU 3\/1997 tentang Pengadilan Anak disebutkan anak yang melakukan pidana disebut anak nakal bukan kriminal pidana atau penjahat,” tandas Hadi.

Pada 29 Mei 2009 sepuluh anak penyemir sepatu tertangkap tengah bermain judi pokerrepublik koin di area Bandara Soekarno Hatta. Mereka adalah MS (14) pelajar kelas VI SD, MT (12) pelajar kelas II SD, SY (11) pelajar kelas IV SD, BR (14) pelajar kelas VI SD, AR (14) pelajar kelas I SMP, ARH (15) pelajar kelas I SMP, AD (13) pelajar kelas VI SD, RS (11) pelajar kelas II SD, RJ (11) pelajar kelas IV SD, dan IA (14) pelajar kelas SMP paket C.

Polri Selidiki Judi via Internet, Suami-Istri Ini Ditangkap

Bareskrim Mabes Polri berhasil membongkar kasus praktik agen situs online beromzet miliaran rupiah. Praktik dengan modus menggunakan fasilitas internet termasuk baru dalam kasus perjudian di Indonesia.

“Ya, ini modusnya baru,” kata Direktur I Bareskrim Brigjen Pol Saud Usman Nasution saat jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (4/2/2010).

Saud menjelaskan, dua orang ditahan karena terbukti sedang menjalankan praktik judi. Mereka adalah S dan D, pasangan suami istri yang ditangkap di sebuah rumah di Muara Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara pada Selasa 2 Februari kemarin.

Judi online ini dipraktikkan setiap hari melalui internet mulai dari pukul 10.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB. Biasanya setiap pemain harus menyetor sejumlah uang terlebih dahulu sebelum bermain untuk mendapatkan ‘kursi’ dan ‘meja’.

Setelah menyetor dan melakukan register, bandar kemudian memulai permainan. Biasanya mereka memainkan jenis judi poker.

“Sebenarnya banyak jenisnya. Tapi poker yang biasanya dimainkan,” jelasnya.

Kedua tersangka, kata Saud, telah menjadi bandar judi selama kurun waktu 2,5 tahun. Dari barang bukti yang disita dikumpulkan Rp 10 milliar di sebuah rekening penampungan.

“Selain pasal 303 kita juga kenakan pasal soal money laundering,” imbuhnya.

Dari hasil penggerebekan, polisi berhasil menyita uang sebesar hampir Rp 700 juta, beberapa buku tabungan, laptop, beberapa HP, slip setoran dan lain-lain.

Selain itu, Bareskrim juga berhasil menangkap 2 orang tersangka kasus judi togel. Keduanya ditangkap pada Senin 1 Februari 2010 di Jl Sunter Agung Utara, Tanjung Priok, Jakut.

KPAI: Pengadilan Harus Dihentikan

Kasus dugaan judi pokerrepublik yang dilakukan oleh 10 anak di bawah umur mulai bergulir di pengadilan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pengadilan dihentikan karena proses hukum awal melanggar UU Perlindungan Anak.

“Ini pengadilan sesat. Saya minta pengadilan terhadap anak di PN Tangerang itu harus dihentikan,” kata Ketua KPAI Hadi Supena, ditemui wartawan di Kantor Kompolnas, Jl. Tirtayasa, Jakarta, Kamis (16\/7\/2009).

Menurut Hadi, pelanggaran ketentuan terjadi sedari awal proses penyelidikan kasus yang terjadi pada akhir Mei silam oleh pihak kepolisian. Pasal 303 UU KUHP yang polisi kenakan, mensyaratkan tindak perjudian bertujuan untuk mata pencaharian.

“Sementara anak-anak itu lebih kepada permainan,” tegas Hadi.

Dia menilai Polres Bandara Soekarno Hatta telah melanggar beberapa aturan atas pengenaan pasal yang tidak tepat tersebut. Yakni pasal 16 UU Perlindungan Anak dan Peraturan Kapolri 8\/2009 pasal 25 yang menyebut bahwa penangkapan, penahanan dan pemidanaan anak-anak merupakan langkah terakhir terlebih bila perbuatan yang dilakukan tidak membahayakan banyak orang.

“Saya berkirim ke kapolri lewat Irwasum Mabes Polri, agar memeriksa jajaran Polres bandara apakah dalam melakukan proses hukum sudah memperhatikan perspektif anak,” sambungnya.

Surat permohonan untuk memastikan aparat hukum yang menangani kasus judi anak-anak memperhatian UU Perlindungan Anak juga KPAI kirim ke Kejaksaan Agung RI selaku pihak penuntut. Sedangkan khusus PN Tangerang, KPAI telah mendatangi langsung untuk menyampaikan masukan-masukannya.

“Di UU 3\/1997 tentang Pengadilan Anak disebutkan anak yang melakukan pidana disebut anak nakal bukan kriminal pidana atau penjahat,” tandas Hadi.

Pada 29 Mei 2009 sepuluh anak penyemir sepatu tertangkap tengah bermain judi koin di area Bandara Soekarno Hatta. Mereka adalah MS (14) pelajar kelas VI SD, MT (12) pelajar kelas II SD, SY (11) pelajar kelas IV SD, BR (14) pelajar kelas VI SD, AR (14) pelajar kelas I SMP, ARH (15) pelajar kelas I SMP, AD (13) pelajar kelas VI SD, RS (11) pelajar kelas II SD, RJ (11) pelajar kelas IV SD, dan IA (14) pelajar kelas SMP paket C.